KetoFastosis FAQ

FAQ ketofastosis

KetoFastosis

 

Ketofastosis merupakan gabungan dari Ketogenic dan fastosis.KetoFastosis bukan sebuah pola makan tapi merupakan sebuah gaya hidup yang harus diaplikasikan seumur hidup.

Ketogenic merupakan sebuah pola makan rendah karbohidrat, tinggi lemak dan protein sedang.

Fastosis adalah fasting on ketosis yang artinya puasa dalam kondisi ketosis. 

Fastosis adalah usaha mengembalikan Pola Hidup manusia sebenarnya, yang menghasilkan Pola Makan yang diperlukan untuk mempertahankan kondisi metabolisme lemak yang optimal (Ketosis).

Ketosis adalah kondisi dimana liver manusia memproduksi “ketone” untuk digunakan sebagai bahan bakar “fuel” atau energi yang digunakan seluruh tubuh terutama otak. Ketosis terjadi ketika tubuh tidak lagi ada asupan karbohidrat (glukosa) sebagai sumber makanan untuk diproses menjadi energi.

Ketone

Ketone adalah molekul yg dihasilkan Liver dari degradasi lemak (Fatty Acid) sebagai pengganti glukosa diotak dan dapat digunakan oleh semua sel ditubuh manusia kecuali Liver itu sendiri yang hanya menggunakan “Free Fatty Acid” (Lemak Bebas) untuk “substrate” (bahan) metabolismenya.

Semua sel ditubuh manusia dapat menggunakan Ketone atau Free Fatty Acid (Lemak Bebas) untuk dirubah menJadi energi didalam “Mitochondria” (generator energi sel) sebagai pengganti glukosa, namun sel-sel otak hanya mampu menggunakan Ketone saja, dikarenakan hanya Ketone yang mampu menyeberang ke dalam otak, karena cukup kecil untuk menembus “Blood Brain Barrier” (Lapisan Pemisah dan Penyaring darah diotak).

Ketone berasal dari degradasi lemak (Fatty Acid) ditubuh, saat kadar glukosa darah (gula darah) menurun. Ketone hanya diproduksi oleh Liver seperti saat kondisi Puasa, Olahraga dengan intensitas tinggi, dan asupan makanan yang rendah karbohidrat (rendah sumber glukosa).

Target optimal Ketone darah pada program Fastosis adalah 2,2 mMol – 6 mMol, atau bila melalui Urinalisa maka targetnya adalah +2 hingga +4

Ketone atau biasa disebut “Ketone Bodies” terdiri dari 3 molekul yaitu “Acetoacetate”, “Beta Hydroxybutyrate” dan “Acetone”

Ketone adalah molekul pengganti glukosa yang hanya muncul saat kondisi hormon insulin didarah sangat rendah. Dan saat hormon insulin ini sangat rendah, maka hormon antagonis Insulin yaitu “Glucagon” akan menjadi lebih dominan ditubuh, dimana hormon Glucagon dan Adrenaline akan memicu “Lipolysis” yang merupakan degradasi Triglyceride untuk dirubah menjadi Free Fatty Acid dan Glycerol, yang selanjutnya akan dirubah diliver menjadi Ketone (dari Free Fatty Acid) dan Glukosa (dari Glycerol).

Ketone diproduksi secara eksklusif di Liver dari degradasi lemak (Fatty Acid) dan hanya diproduksi saat cadangan “Glycogen” (simpanan Glukosa) di Liver telah habis, karena digunakan untuk metabolisme saat kondisi Puasa, atau makan rendah karbohidrat (sumber glukosa).

Ketone dibutuhkan saat kondisi Puasa, Defisit Kalori atau makan dengan pola rendah karbohidrat. Dimana dengan hadirnya Ketone ini, maka rendahnya kadar Glukosa Darah (gula darah) tidak akan memicu reaksi “Hypoglycemic” (gejala rendah gula darah). Dan saat Ketone menggantikan glukosa diotak, maka sel otak akan menggunakan Ketone untuk metabolisme energinya. Ketone memiliki “Potensial”energi yang lebih besar dibanding glukosa, dan metabolisme Ketone ini akan mengurangi ekses Radikal Bebas (Reactive Oxygen Species – ROS) dari hasil Oksidasi didalam sel (didalam Mitochondria) sehingga otomatis akan menurunkan level Inflamasi (Iritasi) yang terjadi didalam otak. Hal ini berlaku pula diseluruh tubuh, dimana saat semua sel-sel ditubuh menggunakan Ketone sebagai pengganti Glukosa, maka kadar Radikal Bebas (ROS) akan menurun.

Program Ketofastosis

Lemak merupakan “substrate” bahan bakar yang paling ketogenic. Dimana lemak hanya memiliki 10% komposisi glycerol yang bisa dirubah menjadi glukosa. Ini berarti lemak memiliki sifat yang sangat rendah kemungkinannya untuk bisa memicu Insulin (Insulinogenic), maupun untuk dirubah menjadi glukosa (Glucogenic)
Protein merupakan “substrate” yang menjadi “building block” utama dalam “sintesis” sel-sel baru, seperti untuk regenerasi sel dan untuk perbaikan sel. Namun protein memiliki 56% komposisi “amino acid” yang bersifat “Glucogenic” yang artinya dapat dirubah menjadi glukosa melalui jalur “Gluconeogenesis”. Ini juga berarti bahwa 56% komposisi protein bersifat “Insulinogenic”.
Karbohidrat merupakan “substrate” yang paling tinggi komposisi nya untuk dirubah menjadi glukosa ditubuh. Dimana karbohidrat memiliki 100% komposisi yang dapat digunakan dalam langsung untuk proses “Glycolysis” (metabolisme glukosa di cytoplasma). Hal ini menyebabkan Karbohidrat memiliki sifat 100% “Glucogenic”, yang otomatis juga akan bersifat 100% “Insulinogenic”.
Dalam program Fastosis, kunci utama nya adalah Puasa. Dimana kondisi puasa adalah kondisi yang sangat rendah hormon “Insulin”, namun merupakan kondisi yang tinggi hormon “Glucagon” (antagonis insulin yg diproduksi juga di pancreas). Saat di jam puasa, kondisi rendah insulin ini akan memicu glucagon untuk lebih aktif memicu degradasi lemak (Lipolysis) untuk energi, sedangkan kemunculan respon insulin akan membatalkan proses ini.
Lalu saat di jam makan (feeding window) pada program Fastosis, respon insulin tetap ditekan dengan memilih rasio makronutrisi yang tinggi Lemak, dan rendah protein/karbohidrat. Tujuannya agar level hormon glucagon tetap dominan ditubuh, dan tidak mengganggu proses atau adaptasi pada metabolisme “ketogenesis”.
Ketogenesis yang optimal akan memberikan suplai “ketone” yang optimal didarah, sehingga menciptakan kondisi ketosis yang sempurna dan dapat “mereverse” berbagai problem yang sebelumnya terjadi akibat “Surplus Energi” dari glukosa yang memicu tinggi konsentrasi Radikal Bebas (ROS), memicu pelengketan/karamelisasi di tubuh (Glycation) dan berbagai abnormalitas/anomali lainnya akibat kondisi tinggi glukosa didarah.

Ketone dibutuhkan saat kondisi Puasa, Defisit Kalori atau makan dengan pola rendah karbohidrat. Dimana dengan hadirnya Ketone ini, maka rendahnya kadar Glukosa Darah (gula darah) tidak akan memicu reaksi “Hypoglycemic” (gejala rendah gula darah). Dan saat Ketone menggantikan glukosa diotak, maka sel otak akan menggunakan Ketone untuk metabolisme energinya. Ketone memiliki “Potensial”energi yang lebih besar dibanding glukosa, dan metabolisme Ketone ini akan mengurangi ekses Radikal Bebas (Reactive Oxygen Species – ROS) dari hasil Oksidasi didalam sel (didalam Mitochondria) sehingga otomatis akan menurunkan level Inflamasi (Iritasi) yang terjadi didalam otak. Hal ini berlaku pula diseluruh tubuh, dimana saat semua sel-sel ditubuh menggunakan Ketone sebagai pengganti Glukosa, maka kadar Radikal Bebas (ROS) akan menurun.

VCO merupakan jenis lemak yang memiliki rantai karbon yang pendek (Medium Chain Triglyceride/MCT) yang mudah di pecah oleh Liver menjadi “Glycerol” (bahan pembuat glukosa) dan “Fatty Acid” (bahan metabolisme lemak dan untuk diproses lebih lanjut menjadi “Ketone” di liver).
Supplementasi dengan VCO ini, jelas akan menolong proses transisi tubuh menuju metabolisme lemak, dimana Liver akan lebih cepat memproduksi “Ketone” untuk segera menggantikan posisi glukosa yang mulai hilang ditubuh dalam Fastosis. Hal ini penting untuk membentuk “Transisi Halus” dari metabolisme glukosa ke metabolisme lemak ditubuh, dan mencegah efek “Hypoglycemic” yang mungkin terjadi atau menimbulkan gejala yang berlebihan. Namun seiring proses adaptasi “Ketosis” yang lebih sempurna, yang biasanya terjadi setelah periode 3 bulan program, maka VCO dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan dalam program. Karena saat sudah beradaptasi dengan Lemak dalam bentuk apapun, seperti terhadap tipe “Medium Chain Triglyceride” (MCT) maupun “Long Chain Triglyceride” (LCT). Tipe LCT ini merupakan tipe yang paling dominan ditubuh manusia, dimana LCT ini merupakan tipe yang paling banyak ditemukan pada jaringan penyimpan lemak manusia (Adipose Tissue).
Immunator Honey merupakan “alat” yang digunakan diprogram untuk membentuk “Conditioning” terhadap sistem immune manusia untuk selalu “Melek” (sensitif), sehingga mampu memicu identifikasi terhadap segala “abnormalitas” ditubuh. Abnormalitas ini dapat berupa kehadiran sel-sel “antigenic” seperti “pathogen” maupun “sel kanker”.
Abnormalitas ini juga dapat berupa kondisi “Inflamasi” berlebihan yang terjadi sebelumnya, akibat sel-sel immune yang bersifat “overreaktif” dan “inflammatif”. Kondisi “sensitif” yang dipicu Immunator Honey, akan mengembalikan keseimbangan respon immune dan mencegah terjadinya “Over-Inflammasi” dalam “Usaha” sel-sel immune membereskan masalah yang ada “sebelumnya” (Existing Problem/abnormalitas). Kondisi “sensitif” ini akan mengoptimalkan “proses perbaikan” yang akan berlangsung, namun tetap menjaga “intensitas” respon immune agar tidak menyebabkan “Over-Inflamasi” yang bersifat “Negatif” dan justru akan melukai “Host” (tubuh) nya sendiri. Hal ini diperoleh saat semua receptor dipermukaan sel-sel immune menjadi meningkat kesensitifannya dan dapat mengatur proses “Signalling” antar sel lebih baik (Negative Feed Back Loop). Sehingga respon immune untuk perbaikan kondisi, menjadi lebih terkontrol dan menciptakan “Thermostat” alami yg dapat mencegah terjadinya “Indikasi Over-Inflamasi” yang mungkin terjadi.
Sel-sel Immune yang telah sensitif ini juga akan memperhalus transisi menuju kondisi “Ketosis”, dimana kemungkinan kemunculan gejala “Hypoglycemic” akan terkontrol dan tidak menyebabkan efek “inflamasi” lanjutan ditubuh. Hal ini diperoleh dari efek sensitifitas sistem immune yang mampu mencegah terjadinya “Over-Inflamasi” seperti yang telah dijelaskan sebelumnya diatas.
Sensitifikasi sistem immune ini juga memicu “aktivitas” sistem immune manusia yang lebih “Aktif”. Dimana kondisi “Aktif” ini akan membuat konsumsi “Energi” menjadi lebih besar ditubuh, akibat kebutuhan energi yang diciptakan oleh sel-sel immune yang menjadi aktif “Bergerilya” (Immuno-Surveillance) untuk mencari “antigen-antigen asing/abnormal” ditubuh, seperti antigen dari “pathogen” maupun “sel kanker”.
Aktivasi sistem immune ini juga akan memicu proses pembersihan (Phagocytosis) terhadap “kotoran-kotoran” (impurities) ditubuh, seperti halnya proses “Scavenging” yang dilakukan oleh “Macrophage” pada “Plak” di arteri pembuluh darah. Aktivitas pembersihan ini memicu peningkatan kebutuhan “energi” ditubuh.
Dengan demikian, secara “overall” aktivasi sistem immune jelas akan meningkatkan kebutuhan energi (metabolisme) ditubuh, dan akan menciptakan “Kalori Defisit” yang lebih “Besar”.
Kalori Defisit ini akan mempercepat proses pembersihan (konsumsi) glukosa ditubuh, dan akan “Mempercepat” proses “Transisi” ke kondisi “Ketosis” yang diharapkan.
Immunator Honey merupakan “Alat” yang digunakan untuk memicu “Sensitifikasi” sistem immune, dimana hal ini dapat terjadi disaat “Tubuh” mengalami “Ancaman”. Immunator Honey menggunakan protein yg berasal dari Colostrum Sapi, yang diproses secara “Ultrafiltrasi” sehingga menghasilkan ukuran partikel yg sangat kecil (Dalton Size). Ukuran I sangat kecil untuk bisa meniru ukuran protein pada “antigen” Virus. Antigen Virus merupakan protein yg dilapisi Glukosa (Glycosylated Viral Protein – Glycoprotein), sehingga agar protein dari colostrum sapi ini bisa meniru bentuk dari antigen Virus, maka protein yang telah di “Ultrafiltrasi” ini di “Infused” (Inkubasi) dengan madu, sehingga akan membentuk proses “enzymatic” yang memicu perekatan Glukosa dari Madu pada permukaan protein tersebut.
Inilah tujuan mengapa Immunotherapy yang dihasilkan oleh Immunator Honey, harus menggunakan media Madu sebagai “Pembawa” nya (Carrier).
Efek yang dihasilkan oleh “Ancaman Fiktif” dari Immunator Honey, akan membuat sistem immune menjadi “Waspada” (Alert). Disinilah proses “Sensitifikasi” sel-sel immune terjadi, dimana kondisi Alert ini akan menyebabkan sel-sel immune menjadi “Aktif” bergerilya mencari “Antigen-Antigen non-Self” (antigen asing atau malignant) dilingkungan “Microcellular” didalam tubuh (Immuno-Surveillance).
Respon Immune yang dihasilkan Protein berlapis glukosa ini akan menimbulkan “Alert” di sel-sel immune Adaptif, seperti CD4 (T-Helper Cells), CD8 (T-Killer Cells), CD56 (NK-Cells) dan CD19 (B-Cells). Dimana “Lymphocte Subset” ini adalah sel-sel immune yang bertugas “Menseleksi” dan “Mencari” sel-sel yang terinfeksi ditubuh dan juga sel-sel yang bersifat “Malignant” (sel Kanker).‎

Fastosis terdiri dari 3 tahap, yaitu Fase Induksi, Fase Konsolidasi dan Fase Maintenance.

Fase Induksi adalah fase dimana tubuh dipicu untuk menggunakan dan menghabiskan semua cadangan glukosa dalam bentuk “glycogen” pada massa otot dan liver ditubuh. Tujuannya agar setelah “glycogen” ini habis, maka tubuh akan menginisiasikan pembentukan “Ketone” di liver sebagai bahan bakar pengganti glukosa di seluruh tubuh, terutama untuk sel-sel otak.
Target utama dari fase Induksi adalah memperoleh keseimbangan “gula darah puasa” dibawah 80 mg/dL, dimana dengan memiliki gula puasa serendah itu dan dengan syarat tidak mengalami gejala “Hypoglycemic” di level tersebut, telah membuktikan bahwa tubuh sudah beralih menggunakan “Lemak” (Free Fatty Acid) dan “Ketone” sebagai sumber bahan bakar dominan ditubuh. Puasa merupakan kunci utama dalam program Fastosis, sehingga penguasaan terhadap jam puasa merupakan “Target Utama” didalam program ini. Puasa wajib dilakukan minimal selama 16 jam pada fase induksi, dimana disarankan untuk berhenti makan sebelum jam 8 malam dan bisa makan kembali setelah jam 12 siang di keesokan harinya. Dengan demikian otomatis hanya sarapan yang dihilangkan dari kebiasan makan sehari-hari. Kondisi puasa adalah kondisi dimana hormon insulin menjadi sangat rendah, dan sebaliknya hormon glucagon menjadi dominan ditubuh. Kondisi puasa juga merupakan kondisi dimana pencernaan manusia beristirahat, sehingga usus tidak lagi mengkonsumsi banyak energi untuk digunakan dalam proses mencerna makanan padat. Untuk mencapai hal ini, maka sudah pasti hanya sumber “Lemak” dalam bentuk cair (liquid) yang dapat dikonsumsi sebagai sumber kalori di jam puasa. Dan selain lemak hanya minuman bebas kalori yang dapat dikonsumsi disaat periode puasa. Protein dan karbohidrat dalam bentuk cair sekalipun tidak diperkenankan untuk dikonsumsi di jam puasa, sehingga kondisi puasa menjadi kondisi yang terjaga dari kenaikan hormon insulin akibat asupan minuman.
Lalu disaat jam makan telah datang, fase induksi hanya mengijinkan sumber “Hewani” (Fauna/Dunia Hewan) yang bisa dikonsumsi sebagai makanan dan menghindari semua sumber “Nabati” (Flora/Dunia Tumbuh-tumbuhan) didalam makanan, kecuali hanya sedikit seperti yang terdapat pada bumbu-bumbu masakan seperti contohnya bawang, merica, cabai dan sebagainya (Kecuali yang tinggi karbohidrat seperti gula, kecap, dll).
Hal ini bertujuan untuk memudahkan menjaga batasan sumber karbohidrat yang bisa masuk ketubuh sehingga akan menunda proses pembersihan “glycogen” didalam tubuh. Batas maksimal karbohidrat yang di ijinkan dalam fase induksi hanya 10g, sehingga dengan hanya memilih sumber makanan dari hewani, akan mudah menjaga batasan karbohidrat yang masuk ketubuh.
Sumber serat untuk memperlancar pencernaan dapat diperoleh dalam bentuk yang bebas karbohidrat, seperti contohnya agar-agar, cincau, rumput laut atau suplemen serat lainnya yang tidak memiliki nilai kalori sama sekali atau sangat rendah.

Fase konsolidasi adalah fase dimana tubuh diperkenalkan kembali dengan unsur karbohidrat yang berasal dari “Nabati”, dimana sumbernya pun harus memiliki nilai karbohidrat yang cukup rendah, sehingga dapat mempertahankan batasan karbohidrat yang bisa masuk ketubuh dalam fase ini, yaitu dibawah 15g per hari.
Hal ini bertujuan untuk menjaga dan memperkuat kondisi “Ketosis” yang telah diperoleh dari fase induksi sebelumnya, dan sumber karbohidrat dari Nabati yang rendah ini, tidak akan mudah mengisi kembali “Glycogen” di seluruh tubuh, terutama pada liver.
Dalam fase ini, seharusnya gula darah puasa tidak mudah kembali terpicu untuk naik diatas 80 mg/dL, karena penambahan karbohidrat dari makanan tidak seharusnya mengisi kembali “glycogen” ditubuh yang menyebabkan keseimbangan gula darah naik. Namun bila didapati kenaikan gula darah puasa di fase ini, maka di wajibkan mengulang kembali ke fase induksi untuk memperkuat kembali kondisi “ketosis” nya lebih dahulu, sebelum kembali menggunakan fase konsolidasi yang mengijinkan penambahan sumber Nabati sebagai tambahan menu dimakanan.
Untuk memudahkan pemilihan sumber Nabati yang rendah Karbohidrat, maka disarankan untuk mengkonsumsi jenis sayuran yang tinggi serat saja, seperti yang terdapat pada unsur daun-daunan, batang, dan bunga pada tumbuh-tumbuhan. Hindari konsumsi sumber Nabati yang berasal dari akar-akaran, buah-buahan, biji-bijian dan bagian lainnya dari tumbuh-tumbuhan yang memiliki kandungan tinggi karbohidrat.
Dalam fase konsolidasi ini, jam puasa wajib ditambah menjadi minimal 18 jam, karena dikondisi “ketosis” seharusnya sudah lebih mudah bagi tubuh untuk mengakses sumber lemak cadangan (body fat) dan bisa efektif menggunakannya sebagai sumber energi ditubuh, tanpa banyak memerlukan penambahan sumber energi dari asupan makanan. Fase konsolidasi ini bertujuan untuk memantapkan kemampuan tubuh dalam menggunakan energi lemak yang tersimpan di jaringan lemak, sehingga tubuh akan beradaptasi dengan kondisi tanpa makanan lebih lama.

Fase Maintenance adalah fase pemeliharaan kondisi “Ketosis” yang optimal, dimana difase ini batasan karbohidrat yang masuk bisa lebih tinggi dibanding fase-fase sebelumnya. Dalam fase ini seharusnya gula darah puasa telah terpantau stabil dibawah 80 mg/dL, dimana penambahan sumber Nabati yang berasal dari sayur-sayuran tinggi serat, tidak memicu kenaikan gula darah puasa.
Oleh sebab itu fase ini mengijinkan adanya penambahan sumber Nabati dari unsur buah-buahan yang rendah nilai karbohidratnya, seperti contohnya buah-buah masam seperti jenis beri.
Namun konsumsi buah-buahan rendah karbohidrat ini harus tetap dibatasi agar tidak melewati batasan total karbohidrat sehari yang di ijinkan di fase ini, yaitu dibawah 20g perhari.
Pada fase ini, efektifitas penggunaan lemak cadangan didalam tubuh seharusnya sudah sangat optimal, sehingga puasa wajib dinaikkan menjadi minimal 20 jam sehari. Dengan demikian akan sangat mudah di fase ini untuk mempertahankan kondisi “ketosis” yang optimal, dimana jam makan (feeding window) yang tersedia akan cukup pendek untuk membatasi masuknya sumber energi dari makanan, dan mengoptimalkan penggunaan sumber energi dari lemak cadangan ditubuh.
Selama fase maintenance, tubuh akan menjadi sangat efisien dalam menggunakan sumber energi yang tersedia dari lemak cadangan, dan akan membentuk “adaptasi” terhadap kondisi tanpa makanan yang sangat efektif. Kemampuan bertahan hidup tanpa makanan akan menjadi sangat tinggi, sehingga tubuh akan memasuki kondisi selektivitas yang sangat tinggi terhadap sel-sel abnormal yang terlalu boros energi, seperti pada sel kanker, patogen, sel rusak/menua, dan sel-sel over aktif lainnya yang biasanya bersifat “inflamatif” ditubuh. Di level ini, kadar inflamasi ditubuh akan menjadi sangat rendah dan menciptakan tingkat kesehatan yang sangat optimal. Karena dengan kemampuan tubuh untuk menciptakan kondisi “efisiensi tinggi” dari rendahnya sumber energi dari makanan, maka hanya sel-sel normal dan sehat lah yang bisa bertahan didalam tubuh dikondisi seperti ini.

Puasa dalam program Fastosis, adalah salah satu usaha untuk menciptakan “Defisit Kalori” yang menyebabkan pengosongan “Glycogen” diseluruh tubuh. Saat cadangan glycogen di liver telah habis, maka tubuh akan menginisiasikan proses “Ketogenesis” di liver, untuk memproduksi “Ketone” sebagai pengganti glukosa di seluruh tubuh, terutama bagi sel-sel otak.
Kondisi puasa adalah kondisi dimana level hormon insulin sangat rendah, yang otomatis akan memaksimalkan level hormon glucagon sebagai antagonisnya. Hormon glucagon ini yang akan memicu proses “Lipolysis” (degradasi lemak) yang stabil setiap saat dalam program Fastosis.
Puasa juga akan mempercepat pembersihan terhadap “Glycation” yang pernah terjadi di gaya hidup sebelumnya yang mengkonsumsi tinggi karbohidrat dalam diet sehari-harinya. Pembersihan “Glycation” ini akan mempercepat tercapainya level gula darah optimal yang di targetkan di program Fastosis, yaitu dibawah 80 mg/dL
Puasa merupakan kondisi dimana pencernaan tidak bekerja, sehingga energi yang tersedia ditubuh bisa dialihkan untuk keperluan lain seperti perbaikan sel-sel ditubuh yang rusak, aktivitas sel-sel immune untuk melawan ancaman dan membersihkan racun-racun ditubuh, dan juga memicu regenerasi sel-sel ditubuh yang menghasilkan efek “Reverse Aging”.

Olahraga merupakan usaha yang dilakukan manusia untuk menciptakan “Hormesis”.
Hormesis ini adalah salah satu proses yang memicu “stress” ditubuh, namun bertujuan untuk meningkatkan “Kapasitas” tubuh dalam membentuk “Resistansi” terhadap stress disel-sel tubuh. Dengan demikian olahraga akan menciptakan “Homeostasis” (Keseimbangan) yang lebih baik saat sel-sel ditubuh telah menjadi “Kebal” terhadap berbagai situasi “stress” yang dapat menyebabkan kerusakan. Contohnya akibat “Oxidative Stress” akibat radikal bebas ditubuh. Olahraga juga akan menciptakan “sensitivitas” terhadap “Insulin” ditubuh, sehingga sel-sel ditubuh akan mudah menyerap dan menggunakan glukosa yang beredar didarah dengan cepat, dan menghindari “Hyperglycaemia” yang bisa terjadi akibat konsumsi karbohidrat dalam jumlah besar. Kesensitifan insulin ini merupakan kebalikan dari “Insulin Resistance” dimana merupakan pathologis penyakit yang menyebabkan kondisi gula darah mudah meningkat. Dan jika insulin resistant sudah terjadi, maka “Glycation” lah yang akan menjadi masalah kedepannya dan memicu efek domino yang mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit kronis di masa depan.
Program Fastosis ini sangat menganjurkan untuk mengaplikasikan olahraga secara rutin di jam puasa (Fasting Window). Dimana dengan berolahraga pada saat puasa akan menciptakan “Demand” yang tinggi terhadap energi, dan akan memicu tubuh melepaskan cadangan lemak sebagai bahan bakar disaat puasa. Selain itu, “demand” yang diciptakan ini akan memicu produksi “Ketone” yang lebih tinggi didarah, sehingga akan membuat jam puasa menjadi mudah dilalui tanpa rasa lapar atau lemas. Olahraga dalam kondisi “Ketosis” sangat berbeda dengan kondisi metabolisme glukosa konvensional. Dimana pada metabolisme glukosa, olahraga akan mempercepat pengosongan “glycogen” dan memicu gejala “Hypoglycaemic”.
Sedangkan dalam kondisi “Ketosis”, olahraga justru memicu produksi “ketone” yang akan meningkatkan level energi di jam puasa.
Olahraga saat jam puasa ini, juga akan memicu pembersihan “Glycation” yang lebih cepat ditubuh, sehingga memudahkan untuk memperoleh dan mempertahankan level gula darah optimal didalam program Fastosis, yang ditargetkan untuk mencapai dan bertahan dibawah 80 mg/dL

Program Fastosis bukanlah diet semata, program ini mengembalikan cara hidup manusia sebenarnya dimana makanan bukanlah penghambat aktivitas manusia dimuka bumi. Dengan membentuk metabolisme lemak yang dihasilkan dari kondisi penguasaan terhadap puasa yang menggunakan pola makan manusia di masa lalu (Hunter & Gatherer – Pemburu & Pengumpul), maka Fastosis akan mengembalikan kemampuan “Survival” yang tinggi pada manusia modern yang telah menjadi lemah, dan ketergantungan dengan tersedianya bahan makanan setiap saat. Manusia saat ini adalah manusia yang sangat rentan dengan berbagai macam penyakit, terutama penyakit akibat “Surplus Energi” setiap saat. Hal ini terjadi karena efek pola makan yang tinggi Karbohidrat, menyebabkan manusia tidak mampu lagi mengakses cadangan energinya ditubuh yang disimpan dalam bentuk lemak ini, dengan mudah. Karena manusia modern saat ini, akan mudah mengalami gejala saat kehilangan sumber makanan, walau hanya 1 x 24 jam saja. Hal ini terjadi akibat manusia saat ini sangat aktif menggunakan “Hormon Insulin” nya, dimana ini merupakan hormon yang akan selalu muncul setiap mengkonsumsi makanan dengan rasio karbohidrat yang lebih tinggi ditiap makanannya. Hormon insulin ini adalah hormon yang bersifat “Anabolic”, dimana merupakan hormon yang memicu “Pembentukan Lemak” dan akan menghentikan “Pembakaran Lemak”. Saat hormon ini menjadi selalu dominan ditubuh, maka hilanglah kemampuan alami manusia untuk bisa dengan mudah mengakses lemak cadangannya disaat tidak ada makanan tersedia.
Gejala “Hypoglycemic” selalu menimbulkan “Instinct” untuk kembali mencari makanan, dan kondisi dunia saat ini dimana sumber makanan telah ada dan melimpah dimana-mana, membuat manusia dengan mudah memperoleh makanan kembali, untuk meredakan gejala yang muncul akibat “Hypoglycemic.
Inilah faktor utama yang menyebabkan manusia saat ini menjadi sangat lemah terhadap kondisi kekurangan pangan, dan malah akan menciptakan kondisi dimana tubuh manusia akan selalu mengalami “Surplus Energi” setiap saat. Karena itu program Fastosis, akan mengubah kembali kemampuan bertahan hidup manusia dalam kondisi “Defisit Energi” disetiap saat, dimana kondisi defisit energi ini justru akan memicu pembentukan “Resistansi” terhadap berbagai macam penyakit yang bisa muncul dari dalam tubuh, maupun dari ancaman infeksi diluar tubuh. Kondisi kalori defisit yang memicu efektivitas metabolisme lemak, akan membentuk selektivitas alami didalam tubuh manusia, dimana hanya sel-sel yang normal dan sehat saja yang akan dipertahankan. Otomatis kondisi seperti ini akan membentuk tubuh yang sangat kebal terhadap berbagai “stress” yang bisa terjadi akibat kekurangan makanan, serangan infeksi, mutasi sel (malignancy/Cancer) didalam tubuh, dan mencegah munculnya berbagai macam penyakit metabolisme yang terjadi dimasa kini.
Kondisi kalori defisit yang didukung oleh metabolisme lemak, akan sangat mudah dijalani dibandingkan dengan metabolisme konvensional manusia yang mengandalkan sumber glukosa dari karbohidrat. Dimana kalori defisit tidak akan menyebabkan efek negatif seperti halnya yang terjadi pada kondisi metabolisme konvensional yang mengalami “Hypoglycemic” saat terlalu banyak kehilangan glukosa didarah yang hanya “sedikit” untuk bisa disimpan ditubuh dalam bentuk “Glycogen”. Metabolisme lemak akan membuat manusia kembali mudah mengalami kalori defisit tanpa menimbulkan “gejala” apapun, dimana akhirnya kondisi kalori defisit ini yang akan memicu “Selektivitas” tinggi didalam tubuh.

Program Fastosis bisa diterapkan di semua umur, hanya perbedaannya adalah aplikasi Puasa nya. Untuk balita dan anak-anak, atau remaja yang masih dalam masa pertumbuhan, tidak memerlukan aplikasi puasanya, dan hanya fokus terhadap pemilihan sumber makanannya. Karena kondisi masa pertumbuhan, sudah pasti membutuhkan surplus energi untuk mendukung proses pertumbuhan yang optimal. Hal ini juga berlaku bagi ibu yang hamil maupun menyusui, dimana surplus energi dibutuhkan untuk pertumbuhan janin dan juga untuk pembentukan ASI ditubuh.
Namun yang perlu dipahami, adalah Karbohidrat bukanlah satu-satunya sumber energi yang bisa dipakai manusia untuk bertumbuh. Karena manusia justru akan memperoleh energi yang jauh lebih besar dari asupan lemak. Lemak memiliki sumber kalori yang lebih besar dibanding makronutrisi lainnya, seperti Karbohidrat maupun Protein. Dimana Lemak memiliki potensial energi sebesar 9 kalori per gram, sedangkan karbohidrat dan protein hanya memiliki potensial energi sebesar 4 kalori per gram.
Lemak merupakan bentuk penyimpanan energi yang paling efektif pada suatu “molekul”, dan lemak hanya bisa dirubah menjadi energi oleh sel-sel yang memiliki “Mitochondria” (Generator energi sel) didalam “Cytoplasma” (tubuh sel) nya. Mitochondria ini hanya dimiliki oleh mahluk derajat tinggi, seperti manusia dan hewan mamalia. Dengan demikian lemak merupakan sumber energi yang paling “Selektif” dalam menciptakan kondisi selektivitas supply energi didalam tubuh.
Ini yang menyebabkan saat tubuh manusia telah kembali memiliki metabolisme lemak, maka akan sulit bagi mahluk-mahluk primitif seperti Pathogen untuk dapat hidup didalam tubuh manusia. Inilah yang membuat tubuh manusia memiliki kemampuan “Anti-Infeksi” alami, dan akan melindunginya dari berbagai ancaman infeksi dari lingkungannya. Anak-anak tidak akan mudah lagi terkena infeksi, dalam proses pertumbuhannya menuju kedewasaan.

Sudah pasti program Fastosis akan membentuk proses “reversal” terhadap berbagai masalah metabolisme di masa kini. Karena program ini merupakan “usaha” untuk mengembalikan kemampuan sistem immune manusia untuk melihat abnormalitas ditubuh, seperti reaksi-reaksi inflamasi berlebihan yang dihasilkan oleh kondisi metabolisme yang buruk. Dan dengan aplikasi puasa dan pola makan yang mendukung metabolisme lemak, maka level radikal bebas ditubuh akan menjadi sangat rendah, dimana radikal bebas inilah yang memicu terjadinya reaksi kimia terhadap molekul-molekul lemak dan protein yang terdapat dalam jumlah besar ditubuh, sebagai struktur utama sel-sel ditubuh manusia. Radikal bebas ini membuat sel-sel ditubuh menjadi reaktif dan berbahaya, karena sifat “Oxidative Stress” yang dapat ditimbulkannya terhadap protein dan lemak ditubuh. Dan sumber pemicu “Oksidasi” terhadap lemak dan protein ini adalah keberadaan molekul “Glukosa” yang tinggi ditubuh, dimana “Glukosa” merupakan molekul “Pereduksi” (Reducing Agent) yang mudah bereaksi dengan molekul lemak dan protein, sehingga menyebabkan ketidak stabilan pada molekul-molekul tersebut. Dasar semua penyakit modern saat ini berasal dari keberadaan glukosa yang dominan digunakan sebagai sumber energi. Dimana metabolisme glukosa, merupakan metabolisme yang selalu menghasilkan “ekses radikal bebas” dalam jumlah besar ditubuh.
Ini sebabnya mengapa tubuh tidak bisa menyimpan glukosa dalam jumlah besar. Karena bila tidak segera dirubah dalam bentuk yang lebih stabil seperti lemak, maka glukosa yang tinggi didarah akan menyebabkan terjadinya “Oksidasi” dalam jumlah besar ditubuh yang akan merusak berbagai sel-sel ditubuh manusia.
Namun dengan pola makan manusia saat ini yang selalu mengandalkan karbohidrat sebagai sumber energi, maka tidak akan mudah untuk mencegah terjadinya “Hyperglycemic” (kenaikan gula darah) disetiap makannya. Dimana disetiap kondisi “hyperglycemic” yang terjadi, akan memicu efek “Glycation” (pelengketan) terhadap molekul-molekul protein dan lemak ditubuh. Dan seiring waktu, efek “Glycation” ini akan menyebabkan “Malfungsi” dari sel-sel yang mengalami “Oksidasi” akibat ketidak-stabilan molekul-molekul tersebut.
Inilah dasar utama penyebab terjadinya “Metabolic Disorder” (Problem Metabolisme) dimasa kini, yang bermanifestasi menjadi berbagai macam jenis penyakit saat ini.
Contohnya adalah “Glycation” yang terjadi pada “Collagen” didinding sel pembuluh darah, yang akan melemahkan dan menyebabkan arteri menjadi kaku (stiff). Bila hal ini terjadi diotak, maka sudah pasti “Stroke” lah akibatnya. Dan saat terjadi diJantung, maka “Arrythmia” lah hasilnya.
Saat efek “Glycation” memicu oksidasi pada “Lipoprotein” seperti LDL, maka efeknya adalah membuat molekul LDL ini terjebak dan membentuk plak dipembuluh darah. Saat ini terjadi, maka problem “Cardiovaskular” seperti jantung koroner lah yang akan terjadi.
Glycation juga akan mempengaruhi “Beta-Cell” pada Pankreas, dimana sel ini merupakan sel penghasil hormon insulin didalam tubuh. Saat ini terjadi, maka sudah pasti output produksi insulin akan terjadi, dan saat seluruh sel lain mengalami “resistansi” akibat hormon insulin yang selalu aktif dari pola makan tinggi Karbohidrat sebelumnya, maka kombinasi ini akan bermanifestasi sebagai penyakit Diabetes yang telah menjadi problem kesehatan global diseluruh dunia.
Penyakit-penyakit “Neurodegenerative” (Penurunan Fungsionalitas Syaraf) merupakan efek yang dihasilkan dari “Glycation” terhadap sel-sel syaraf diseluruh tubuh, terutama diotak. Alzheimer, Parkinson dan berbagai problem syaraf lainnya adalah manifestasi dari efek “Glycation” ini, akibat pola makan tinggi karbohidrat yang tidak bisa terkontrol dengan mudah, dimana surplus glukosa, selalu mudah untuk dialami disetiap makan.
Program Fastosis akan memicu pembersihan ekses glukosa dalam bentuk “Glycation” ini, dimana dengan menimbulkan defisit kalori dan membentuk metabolisme lemak, akan mengikis dan meluruhkan kembali karamelisasi yang telah terjadi, untuk digunakan kembali sebagai sumber energi saat tubuh mengalami defisit kalori.
Dan untuk menciptakan defisit kalori ini, sudah pasti akan sangat mudah bila memiliki metabolisme lemak yang tidak menimbulkan gejala pada kondisi defisit, seperti “Hypoglycemic”.

Panduan untuk menjalankan program Fastosis ini telah didesign dalam bentuk file yang bisa didownload dan bisa dipelajari tata laksana (prosedur) secara protokoler. Panduan program Fastosis, terdiri dari 2 file, yaitu :

  1. Protokol Fastosis, yang merupakan dasar program Fastosis, dalam bentuk “Garis Besar” yang harus diaplikasikan disetiap Fase-Fase yang ditetapkan untuk memperoleh adaptasi terhadap kondisi puasa dengan menggunakan pola makan ketogenic.
  2. Program i-KetoFast, yang merupakan rincian dari “step by step” melaksanakan program disetiap fase, dengan dilengkapi oleh contoh-contoh makanan, jadwal suplementasi, dan berbagai daftar dan catatan penting lainnya seperti, daftar sayuran, daftar buah, daftar sumber lemak dan sebagainya.